Dilema RI, Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno menyebut Indonesia masih mengimpor Liquefied Propane and Butane alias LPG. Bahkan impor tersebut untuk kebutuhan LPG subsidi 3 kilogram. Permasalahan juga terjadi di bahan bakar gas atau liquefied natural gas (LNG), di mana Indonesia akan mengalami defisit dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi tantangan di tengah target Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Eddy memaparkan defisit gas terjadi karena para pelaku usaha mulai melakukan transisi energi.
Dilema RI: Pakai LPG Tapi Impor, Pakai Gas LNG Hampir Defisit – Permasalahan juga terjadi di bahan bakar gas atau liquefied natural gas (LNG), di mana Indonesia akan mengalami defisit dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi tantangan di tengah target Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Permasalahan juga terjadi di bahan bakar gas atau liquefied natural gas (LNG), di mana Indonesia akan mengalami defisit dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi tantangan di tengah target Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.
Dilema RI: Pakai LPG Tapi Impor, Pakai Gas LNG Hampir Defisit
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil energi di kawasan Asia Tenggara. Namun, ironi besar terjadi dalam sektor energi domestik: masyarakat Indonesia sangat bergantung pada Liquefied Petroleum Gas (LPG), padahal mayoritas pasokannya masih impor. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar dalam Liquefied Natural Gas (LNG), tapi justru mengalami ancaman defisit. Fenomena ini menjadi dilema serius dalam tata kelola energi nasional.
Apa Itu LPG dan LNG?
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami perbedaan antara LPG dan LNG:
-
LPG (Liquefied Petroleum Gas): campuran propana dan butana, biasanya digunakan untuk memasak di rumah tangga.
-
LNG (Liquefied Natural Gas): gas alam yang dicairkan, umumnya terdiri dari metana dan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik atau industri besar.
Meski sama-sama berbentuk gas cair, sumber dan penggunaan keduanya berbeda. LPG biasanya merupakan produk sampingan dari kilang minyak atau gas alam, sedangkan LNG berasal langsung dari pengolahan gas alam.
Ketergantungan pada LPG Impor
Fakta Penting:
-
Sekitar 80% kebutuhan LPG Indonesia dipenuhi dari impor.
-
Konsumsi LPG terus meningkat setiap tahun, terutama dari sektor rumah tangga.
-
Impor LPG menyebabkan tekanan besar pada neraca perdagangan migas.
Menurut data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dan sekitar 6,4 juta ton di antaranya berasal dari impor. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi rawan karena bergantung pada fluktuasi harga global dan nilai tukar rupiah.
Mengapa LPG Diimpor?
Indonesia memang memiliki kilang LPG domestik, namun kapasitas produksinya hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan. Sementara itu, program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mendorong lonjakan permintaan yang belum seimbang dengan pasokan domestik.
Potensi LNG yang Belum Dioptimalkan
Di sisi lain, Indonesia adalah produsen LNG terbesar ketujuh di dunia, dengan beberapa kilang utama seperti:
-
Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur
-
Tangguh LNG, Papua Barat
-
Donggi-Senoro, Sulawesi Tengah
Namun, sebagian besar LNG justru diekspor ke luar negeri, terutama ke Jepang, Korea Selatan, dan China. Ironisnya, beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Jawa dan Sumatera, mulai mengalami defisit gas bumi, yang berarti permintaan melebihi pasokan domestik.
Data Menarik:
-
Produksi LNG Indonesia tahun 2023: sekitar 200 kargo.
-
Lebih dari 60% LNG diekspor.
-
Wilayah-wilayah seperti Jawa bagian barat mengalami kekurangan gas untuk industri.
Mengapa LNG Tidak Digeser Menjadi Solusi LPG?
Logikanya, jika Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang besar, mengapa tidak dikembangkan sebagai substitusi LPG?
Teknologi dan Infrastruktur
LNG membutuhkan infrastruktur besar seperti terminal regasifikasi, jaringan pipa, serta konversi peralatan rumah tangga. Sementara LPG cukup praktis dengan tabung dan distribusi darat.
Biaya Investasi
Peralihan dari LPG ke LNG memerlukan investasi miliaran dolar, baik dari sisi hulu (produksi), midstream (transportasi), hingga hilir (penggunaan). Hal ini membuat pemerintah dan pelaku industri harus sangat hati-hati.
Kebiasaan Konsumen
Masyarakat sudah sangat akrab dengan LPG dalam bentuk tabung 3 kg dan 12 kg. Mengubah pola konsumsi memerlukan edukasi, kesiapan alat, dan transisi yang tidak mudah.
Solusi Potensial untuk Keluar dari Dilema Energi
Diversifikasi Energi Rumah Tangga
Pemerintah perlu mendorong diversifikasi penggunaan energi dengan mengembangkan sumber alternatif seperti biogas, kompor listrik (induksi), dan DME (Dimethyl Ether) sebagai pengganti LPG.
Pengembangan Infrastruktur LNG Domestik
Memperbanyak terminal LNG mini dan jaringan pipa gas antarpulau dapat memperluas akses gas alam domestik, terutama untuk sektor industri dan pembangkit listrik.
Optimalisasi Gas Domestik
Alih-alih mengekspor LNG berlebih, pemerintah bisa mengalokasikan sebagian untuk kebutuhan dalam negeri. Skema Domestic Market Obligation (DMO) untuk gas perlu diperkuat, seperti halnya DMO untuk batu bara.
Efisiensi Penggunaan LPG
Mengurangi kebocoran distribusi LPG subsidi dan meningkatkan efisiensi penggunaan di sektor rumah tangga dapat menekan konsumsi nasional.
Apa Dampaknya Jika Dilema Ini Tidak Diatasi?
-
Beban Anggaran Negara: Subsidi LPG terus membengkak dan menggerus APBN. Pada 2023, subsidi energi mencapai lebih dari Rp 300 triliun, sebagian besar untuk LPG 3 kg.
-
Krisis Energi Domestik: Industri dalam negeri akan terganggu jika pasokan LNG semakin menipis akibat defisit gas.
-
Ketergantungan Impor: Ketergantungan jangka panjang terhadap impor energi membuat Indonesia rentan terhadap krisis global.
Studi Kasus: Korea Selatan dan Jepang
Negara seperti Jepang dan Korea Selatan tidak memiliki sumber energi fosil besar, namun berhasil mengembangkan sistem energi berbasis LNG secara efisien. Mereka membangun terminal LNG modern, jaringan distribusi gas nasional, dan infrastruktur rumah tangga yang berbasis gas.
Indonesia memiliki sumber gas yang jauh lebih besar, tetapi belum mengintegrasikan sistem energi seefektif negara-negara tersebut. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya soal sumber daya, tapi juga kebijakan dan implementasi.
Kesimpulan
Dilema antara penggunaan LPG impor dan ancaman defisit LNG adalah alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Ketahanan energi bukan hanya soal memiliki sumber daya, tapi bagaimana mengelola, mendistribusikan, dan menggunakannya secara bijak dan efisien.
