Bangun Pembangkit Baru, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan Indonesia akan memasifkan – tambahan kapasitas listrik dari energi baru terbarukan (EBT) hingga tahun 2034, termasuk dari sumber energi baru seperti nuklir hingga arus laut. Hal itu sudah tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Sedangkan potensi arus laut yang juga bisa dijadikan tambahan kapasitas EBT dalam negeri diperhitungkan mencapai 40 MW. Khusus arus laut masih memerlukan studi lebih lanjut. Hal itu juga menjadi jawaban dari kecilnya rencana pemanfaatan arus laut sebagai sumber energi di dalam negeri.
RI Bakal Bangun Pembangkit Baru: Nuklir-Arus Laut! – Potensi yang diperhitungkan tersedia di wilayah Indonesia Timur tersebut, Eniya menargetkan akan mulai beroperasi sekitar tahun 2030 mendatang yang mana saat ini masih dilakukan proses studi pemanfaatan arus laut. Asal tahu saja, dalam RUPTL 2025-2034 tercatat rencana total penambahan kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 69,5 GW sampai 2034, sebesar 42,6 GW atau 61% akan berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT, dan 10,3 GW atau 15% dari sistem penyimpanan (storage).
RI Bakal Bangun Pembangkit Baru: Nuklir-Arus Laut!
Ringkasan
Pemerintah Indonesia tengah merumuskan dua inovasi besar di sektor kelistrikan: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), termasuk desain terapung berbasis SMR, serta Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) dengan kapasitas puluhan megawatt. Langkah ini didorong oleh kebutuhan transisi energi, menjaga ketahanan energi, dan target emisi net-zero.
Latar Belakang Energi di Indonesia
- 90 GW kapasitas listrik nasional, lebih dari separuh masih bersumber dari batu bara, dan hanya 15 % dari energi terbarukan saat ini .
- Target bauran energi EBT (Energi Baru & Terbarukan) minimal 23 % pada 2025, namun realisasinya masih sekitar 12 % hingga 2022 .
- Negara juga memiliki potensi energi laut hingga 160 GW secara teoretis, misalnya di Selat Lombok & Alas .
Rencana Pembangunan PLTN
Kapasitas dan Teknologi
- DIRI menargetkan kapasitas nuklir ~4–4,3 GW via SMR & reaktor modular kecil berteknologi modern .
- RUPTL 2025–2034 menyertakan rencana PLTN hingga 500 MW.
- Fokus utama: SMR & reaktor terapung (floating) yang bisa dipasang di pesisir atau pulau kecil .
Lokasi Potensial
-
29 lokasi potensial tersebar dari Sumatera hingga Papua, seperti Bangka Belitung, Kalbar, Sulawesi, dan Pulau Gelasa .
-
Pulau Gelasa didorong sebagai pilot proyek reaktor molten salt ThorCon .
Tahapan & Mitigasi Risiko
-
Feasibility study sudah berlangsung, termasuk kerja sama dengan Rusia, Amerika, dan Jepang .
-
Regulasi diperkuat: revisi UU No. 10/1997 dan pembentukan badan NEPIO & task force keamanan .
-
Studi keselamatan melibatkan UGM, konsultan EAI, termasuk aspek gempa, tsunami, dan vulkanisme .
Tantangan & Isu Lingkungan
-
Kekhawatiran publik tinggi karena risiko gempa, tsunami, dan limbah radioaktif .
-
Aktivis Walhi dan masyarakat lokal mempertanyakan pilihan ini sementara energi terbarukan lain masih underutilized .
-
Ada tantangan biaya tinggi. Studi sebelumnya membuktikan PLTN SMR bisa memakan biaya triliunan rupiah .
Inisiatif Pembangkit Arus Laut (PLTAL)
Proyek Pertama
-
PLTAL dengan total kapasitas 40 MW, akan dibangun di NTT (20 MW) dan NTB (20 MW), dengan investasi US$220 juta (≈ Rp3,58 triliun) .
-
Target mulai beroperasi pada 2028, tahap awal RUPTL 2025–2034 .
Kolaborasi Global
-
Melibatkan konsorsium internasional: SBS Indonesia dan NOVA Innovation (AS–UK), Tidal Bridge (Belanda), bekerja sama dengan Pertamina Power Indonesia .
Potensi & Hambatan
-
Ketersediaan garis pantai >54.000 km, dan potensi arus laut besar.
-
Namun lokasi yang masih rural menyebabkan biaya logistik dan koneksi ke grid menjadi faktor kritis .
Alasan Strategis & Manfaat
| Manfaat Utama | Penjelasan |
|---|---|
| Diversifikasi Energi | Mengurangi dominasi batubara, mendukung transisi ke energi bersih. |
| Ketahanan & Keandalan | Nuklir menyediakan listrik 24/7 tanpa fluktuasi; arus laut cocok untuk daerah pesisir. |
| Emisi Rendah | Kedua teknologi ini minim atau nol emisi karbon. |
| Pengembangan Daerah | Proyek SMR dan PLTAL di daerah Timur & pesisir mendukung pembangunan ekonomi di wilayah terluar. |
Tantangan Infrastruktur & Finansial
-
PLTN: biaya pembangunan besar, dibarengi resistensi publik & tantangan keselamatan di zona rawan bencana.
-
PLTAL: butuh infrastruktur pelabuhan, grid, dan pemeliharaan di laut yang kompleks.
-
Konektivitas, regulasi, serta pengawasan limbah dan keamanan masih harus difinalkan sebelum investasi jalan.
Studi Kasus Global
-
Floating SMR seperti Rusia Akademik Lomonosov (30 MW) sudah beroperasi sejak 2020 .
-
PLTAL terbesar saat ini: Sihwa Lake di Korea Selatan—254 MW, sebagai contoh teknologi tidal barrages .
Kesimpulan
Indonesia berdiri di persimpangan energi: memanfaatkan kekayaan laut dan teknologi nuklir untuk mengurangi ketergantungan batubara serta mencapai emisi nol karbon.
Dua proyek besar—SMR/PLTN terapung dan PLTAL—menawarkan janji kuat, tapi tetap butuh mitigasi risiko, pembiayaan memadai, dan dukungan publik.
https://completegamexperience.com/
