RI Disorot Dunia Soal Sampah Plastik, Trenggono Ungkap Hal Tak Terduga

Soal Sampah Plastik, Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono menyebut persoalan sampah plastik di laut – Indonesia tak sepenuhnya berasal dari dalam negeri. Menurutnya, sebagian besar sampah plastik yang ditemukan di perairan Indonesia merupakan kiriman dari negara lain. Pernyataan itu disampaikan Trenggono dalam Rapat Kerja Teknis Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut yang digelar di Jakarta, Selasa (15/7/2025). Dalam kesempatan itu, ia menanggapi sorotan dunia terhadap Indonesia yang kerap disebut sebagai penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua di dunia.

Soal Sampah Plastik

RI Disorot Dunia Soal Sampah Plastik, Trenggono Ungkap Hal Tak Terduga – Namun menurutnya, hasil kajian bersama sejumlah universitas di Australia Barat menunjukkan fakta lain. Ia menyebutkan, banyak sampah plastik yang sampai ke laut Indonesia ternyata berasal dari wilayah negara lain.

RI Disorot Dunia Soal Sampah Plastik, Trenggono Ungkap Hal Tak Terduga

Indonesia kembali menjadi sorotan global terkait masalah sampah plastik. Menurut studi University of Leeds (2024), RI menempati posisi ketiga penyumbang polusi plastik dunia—menghasilkan 3,4 juta ton sampah plastik tiap tahun KOMPAS.com+14merdeka.com+14Tempo+14. Di tengah sorotan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, membeberkan sejumlah fakta yang selama ini kurang terekspos publik.


Sorotan Internasional: Apa Penyebabnya?

Volume sampah plastik raksasa


Data BRIN dan Jambeck (2015) menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesarl kedua dunia, hanya kalah dari China . Stagnasi infrastruktur daur ulang, anggaran tak stabil, dan tingginya konsumsi plastik sekali pakai menjadi penyebab utama.

Aliran plastik hingga Afrika


Riset Oxford University menunjukkan aliran sampah plastik Indonesia bisa sampai Seychelles dan Afrika dalam 6–12 bulan saja . Ini menegaskan bahwa persoalan plastik bukan hanya lokal, melainkan global.

Ekspor limbah terselubung

.
IPEN dan Zero Waste Australia mengungkap praktik ekspor limbah berupa RDF (refuse-derived fuel) dari Australia ke Indonesia dan negara ASEAN lainnya—yang menyebabkan ancaman polusi dan pelanggaran Konvensi Basel .


Pernyataan Tak Terduga dari Menteri Trenggono

Trenggono memberi penekanan pada perspektif tak terduga: dampak pendekatan ekonomi biru dan blueprint sampah laut Indonesia.

  • Laut bukan keranjang sampah
    Sejak 2022, ia tegas mengingatkan bahwa laut bukan tempat limbah. Semua jenis sampah harus dikelola sesuai prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Target pengurangan sampah laut sebesar 70% ditetapkan hingga 2025 .

  • Program Bulan Cinta Laut (BCL)
    Trenggono terus mendorong program Gernas BCL yang dimulai 2022 untuk meningkatkan kepedulian kolektif mengenai sampah laut . Pada 2023, BCL melibatkan 1.350 nelayan dan berhasil mengumpulkan 171,78 ton sampah laut—jumlah keseluruhannya mencapai 820 ton .

  • Fakta tak terduga: nelayan jadi pengumpul utama
    Dalam kesempatan Hari Pahlawan 2023, Trenggono mengungkap bahwa nelayan tidak hanya mencari ikan, tetapi juga secara rutin mengumpulkan sampah laut. Mereka bahkan mendapatkan penghargaan dan insentif, mulai jaring hingga mesin kapal .

  • Kontribusi lokal–global
    Trenggono menunjukkan bahwa posisi geografis Indonesia (dekat Samudera Pasifik) meletakkan negara ini di “zona akumulasi sampah plastik laut terbesar” di dunia. Hal tersebut, menurutnya, menjadikan aksi NSP (negara, swasta, publik) sangat penting .


Dampak Nyata dari Program Trenggono

Aspek Dampak
Ekologis Terbentuk kesadaran laut bersih, peningkatan kualitas ekosistem laut dan pesisir.
Sosial Masyarakat dan nelayan menjadi agen perubahan; aktivisme sampah berkembang.
Ekonomi Insentif bagi nelayan, penggerak bisnis daur ulang lokal, peluang ekonomi biru.

Contohnya, nelayan di Ternate mengumpulkan sampah setiap Jumat, dijual seharga Rp 1.000/kg, dan kini bertujuan mengolahnya menjadi kerajinan seperti tempat tisu atau lampion KKP+1merdeka.com+1KKP.


Tantangan yang Masih Menghalangi

Di balik capaian tersebut, masih banyak pekerjaan rumah:

  1. Infrastruktur daur ulang minim
    Hanya <10% sampah plastik diolah kembali; selebihnya bocor ke lingkungan atau dibakar sembarangan—yang menyebabkan tumpukan mikroplastik hingga masuk tubuh manusia .

  2. Ketergantungan pada plastik sekali pakai

    “Lebih dari 60% plastik … adalah plastik sekali pakai” .

  3. Anggaran dan regulasi tak konsisten
    Program di daerah sering terhenti akibat pergantian kepemimpinan atau ketiadaan dana tetap .

  4. Impor sampah terselubung
    Masih adanya praktik impor limbah dari negara maju yang dikirim sebagai bahan bakar potensial menjadi ancaman nyata bagi kesehatan dan lingkungan .


Strategi yang Ditempuh Pemerintah

  • Memperkuat regulasi impor limbah: memastikan impor hanya untuk keperluan bahan baku, dengan traceable chain of custody .
  • Mendorong kolaborasi multi-pihak: Pemda, nelayan, LSM, sektor swasta, serta komunitas lokal secara aktif dilibatkan lewat program 3R dan Gernas BCL.
  • Edukasi dan kampanye publik: mengubah kebiasaan lewat kesadaran bahwa laut adalah “halaman depan” yang harus dijaga .
  • Insentif ekonomi biru: nelayan/pengumpul plastik mendapatkan penghargaan dan sarana produksi—seperti jaring, mesin kapal—untuk memperkuat modal sosial dan ekonomi.

Rekomendasi Aksi Cepat & Berkelanjutan

  • Skalakan industri daur ulang – Dorong investasi industri daur ulang profesional dan hilirisasi produk.
  • Program edukasi nasional – Integrasi materi 3R di sekolah sejak dini agar budaya sadar lingkungan melekat.
  • Larangan plastik sekali pakai – Terapkan regulasi tegas seperti zona bebas plastik di kota-kota besar.
  • Pengawasan impor limbah – Audit rutin ekspor–impor plastik dengan koordinasi Bea Cukai dan KLHK.
  • Ekonomi biru inklusif – Tambahkan jalur pasar bagi produk turunan plastik daur ulang (lampion, komposit) agar nelayan dan UMKM makin termotivasi.

Penutup

Indonesia kini dihadapkan pada tantangan besar: menjadi negara penghasil dan penyumbang polusi plastik tertinggi. Namun, di tengah sorotan dunia, Menteri Trenggono memperlihatkan arah baru dalam penanganan sampah plastik: melalui ekonomi biru, kolaborasi berbasis laut, dan pelibatan langsung nelayan sebagai “pembersih!”.

https://maintenduedelhi.org/

https://takingnotespodcast.com/

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*