Singapura Dihantam Krisis, Banyak Restoran Bangkrut Dan Tutup

Kriris Kuliner Singapura: 3.000 Restoran Gulung Tikar, Dari Warisan Legendaris Hingga Sentuhan Michelin

Gegar Sektor F&B Singapura: Angka Penutupan Tertinggi dalam Dua Dekade

SINGAPURA – Negara nada4d yang dikenal mapan, Singapura, kini menghadapi krisis serius yang tercermin dari sektor kulinernya. Lebih dari 3.000 bisnis kuliner (F&B) dilaporkan tutup sepanjang tahun lalu, sebuah fenomena yang mengguncang citra kemapanan ekonomi negara tersebut.

Angka penutupan ini setara dengan rata-rata 250 restoran yang gulung tikar setiap bulan, menjadikannya jumlah tertinggi yang tercatat dalam hampir dua dekade terakhir. Yang miris, penutupan ini tidak hanya menimpa pendatang baru, tetapi juga tempat makan legendaris yang telah berdiri selama bertahun-tahun.

Salah satu korban terbaru adalah nada4d Ka-Soh, restoran Kanton berusia 86 tahun yang terpaksa menyajikan mangkuk sup ikan terakhirnya. “Kalah,” ujar Cedric Tang, pemilik generasi ketiga Ka-Soh, yang berjuang untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi pelanggan setia, tetapi akhirnya tak mampu bertahan. Selain Ka-Soh, Prive Group dan dua restoran dalam Michelin Guide Singapura juga terpaksa mengakhiri operasinya.

 Biaya Sewa dan Tekanan Investor yang Mencekik

 

Biaya operasional yang melambung, terutama biaya sewa (rental cost), diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama kebangkrutan massal ini.

  • Kenaikan Sewa Drastis: Terence Yow, ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF), melaporkan mayoritas penyewa mengalami kenaikan sewa antara 20 hingga 49 persen, sebuah lonjakan yang belum pernah terjadi selama 15 hingga 20 tahun terakhir.

  • Properti Ruko Menjadi Incaran: Fenomena ini diperparah oleh ruko yang menjadi properti investasi favorit, baik bagi investor lokal maupun asing, menyusul langkah ‘pendinginan’ pembelian hunian. Hal ini meningkatkan ekspektasi tinggi terhadap imbal hasil sewa.

  • Biaya Lain yang Meroket: Spesialis real estat Knight Frank Singapura, Ethan Hsu, menambahkan bahwa biaya konstruksi telah naik sekitar 30 persen dan biaya pemeliharaan setidaknya 10 persen. “Sewa hanyalah salah satu komponen biaya yang dihadapi penyewa,” jelas Hsu, menepis pandangan bahwa kenaikan harga hanya disebabkan oleh keserakahan pemilik properti.

Krisis Tenaga Kerja dan Perang Gaji di Sektor F&B

 

Faktor kedua yang memperparah situasi adalah krisis tenaga kerja. Dengan ketersediaan juru masak dan staf layanan yang semakin sedikit, pemain besar dengan modal tebal berlomba-lomba menggandakan gaji normal untuk mengamankan staf terbaik.

  • Restoran Kecil Kalah Bersaing: Restoran independen kecil, seperti Burp Kitchen & Bar, tidak mampu bersaing dalam perang gaji, bahkan setelah menaikkan upah dan memangkas jam kerja.

  • Wacana Kuota Pekerja Asing: Asosiasi Restoran Singapura telah menyuarakan alarm tentang krisis tenaga kerja yang serius sejak Maret, menyerukan peninjauan kuota pekerja asing.

  • Masalah Oversupply: Pihak berwenang, bagaimanapun, melihat krisis ini sebagai masalah kelebihan pasokan (oversupply). Singapura dipenuhi hampir 23.600 gerai makanan tahun lalu, dan meskipun 3.047 bisnis tutup, hampir 3.800 bisnis baru dibuka.

Perubahan Perilaku Konsumen dan Dominasi Media Sosial

Selain biaya, perubahan drastis dalam perilaku pelanggan menjadi tantangan besar lainnya, khususnya penurunan pengeluaran.

  • Penurunan Frekuensi Kunjungan: Salah satu pemilik Burp Kitchen, Sarah Lim, mencatat frekuensi kunjungan pelanggan turun drastis, dari tiga hingga empat kali seminggu menjadi hanya sebulan sekali.

  • Kekuatan Gen Z dan Media Sosial: Lebih dari separuh warga Singapura, termasuk 59 persen Gen Z. Penduduk kini mengandalkan media sosial untuk menemukan restoran baru. Hal ini menuntut usaha kecil untuk beradaptasi cepat ke dunia digital. Hal seperti yang dilakukan Marie’s Lapis Cafe yang melonjak 30-40 persen setelah bimbingan pemasaran digital.

Solusi Inovatif dan Advokasi untuk Keadilan Sewa

Untuk jangka panjang, solusi tidak hanya sebatas penambahan kuota pekerja asing. Hal ini juga pada peningkatan produktivitas dan keadilan dalam biaya operasional.

  • Peningkatan Produktivitas: Anggota Parlemen Edward Chia menyerukan bantuan bagi usaha kecil. Hal ini untuk meningkatkan produktivitas dengan jumlah staf yang sama atau lebih sedikit.

  • Adopsi Teknologi: Jaringan “zi char” Keng Eng Kee Seafood berinvestasi dalam perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan (CRM). Serta sistem keanggotaan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan retensi staf.

  • Lobi Keadilan Sewa: Kelompok penyewa SGTUFF melobi agar perpanjangan sewa dibatasi (capped) pada tingkat inflasi atau pertumbuhan PDB. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kenaikan sewa yang tiba-tiba dan besar (50-70 persen) yang seringkali menjadi pemicu penutupan bisnis.

kadobet

bruceleecentral.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*